4. Mengapa Kita Tidak Bangga dengan Pendidikan Di Indonesia?
Saya Yosef Andrian Beo, dari Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Saat ini sedang studi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bethesda Yogyakarta.
Kritikan demi kritikan muncul saat masalah pendidikan diangkat ke permukaan, seperti saat pelatihan Stube HEMAT di Godean, dengan tema Pendidikan Global: Antara Kenyataan dan Harapan. Delapan puluh persen pembahasan tentang Pendidikan Global memandang negatif sistem pendidikan yang diberlakukan di Indonesia saat ini, sisanya yang dua puluh persen tentang berbagai motivasi untuk sukses. Banyak pendapat menyatakan, kesalahan ada pada sistem pendidikan, manajemen pendidikan pusat, dan bahkan pendidikan dipakai sebagai mainan politik. Lalu, kapan kita bisa bangga dengan pendidikan yang telah membentuk kita sampai saat ini?
Pastilah tidak hanya negara kita saja yang memiliki masalah dengan pendidikan, jadi kita harus bangga dengan pendidikan di Indonesia. Rasa bangga akan membawa dampak positif terhadap pendidikan itu sendiri. Pertama, akan lebih tahu bagaimana mencari solusi atas masalah pendidikan yang diperdebatkan. Misalnya di NTT, angka buta huruf masih tinggi karena fasilitas pendidikan belum memadai dan belum terjangkau rakyat. Dari tahun ke tahun, hal ini belum terselesaikan, bahkan mungkin masalah ini sudah ada sebelum saya lahir. Apakah sekarang sudah ada perubahan? Belum, atau mungkin sedikit, karena sistem dianggap sulit dan rumit.
Saya bangga dengan sistem pendidikan di Indonesia dengan berbagai kenyataan pahitnya. Kurikulum yang terus berubah atau diperbaharui, dianggap sebagai kesalahan sistem, yang membuat masalah bagi masyarakat NTT. Mengapa saya bangga? Pertama, karena seleksi alam akan berfungsi dengan sendirinya. Bagi yang tidak mampu bertahan, bisa mencari alternatif lain, semisal pindah jalur sesuai bakat dan minat diri, seperti seni, teknik mesin, pariwisata, olahraga, tata boga, pertanian dan sebagainya. Kedua, dengan bangga pada pendidikan sendiri, bisa mengembangkan potensi lokal yang unik, apalagi anggaran pendidikan menempati tiga besar dari anggaran negara. Keunikan tersebut akan lebih mudah dilihat oleh dunia.
Mengapa kita tidak bangga dengan sekolah-sekolah, perguruan tinggi, atau jutaan pelajar yang kita miliki? Apakah karena standarisasi yang ditetapkan oleh pihak yang tidak mengerti kita? Lupakan standarisasi, ingatlah saja sebuah tempat yang membuat kita bisa bertemu dan berbicara dengan begitu banyak teman. Banyak yang bisa dibanggakan dari pendidikan yang ada di negara kita. Saya juga percaya, para pembaca juga dapat menemukan hal yang membanggakan, kalau mau. Terima Kasih. ***
5. Melahirkan Banyak Ide untuk Beraksi
Efrin Rambu Leki |
Saya Efrin Rambu Leki, asal
dari Anakalang, Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur. Saat ini studi di Sekolah
Tinggi Ilmu Kesehatan Bethesda Yogyakarta.
Dari pemaparan
beberapa narasumber dalam pelatihan Global Education ini, wajah
dunia pendidikan di Indonesia masa kini
terlihat masih perlu melakukan
pembenahan. Eko Prasetyo,
salah seorang narasumber membuka mata saya
terhadap keadaan pendidikan yang
saat ini dianggap sangat ‘mengerikan’. Bagaimana tidak? Pendidikan dijadikan lahan bisnis bagi
sebagian orang tanpa peduli apa yang akan terjadi dengan anak-anak bangsa di
masa depan. Saya menjadi orang yang kemudian merasa tidak nyaman melihat
keadaan pendidikan yang demikian ini. Dari
sinilah saya mulai sadar, mulai belajar peduli dengan keadaan pendidikan yang
ada di lingkungan yang
saya alami
sendiri.
Pengalaman sebagai guru sekolah
minggu selama kurang lebih hampir 2 tahun ternyata juga tidak membuat saya
memahami cara mendidik yang baik dan benar. Saya hanya mengajar tanpa terpikirkan
apakah yang saya ajarkan itu membawa dampak positif bagi mereka atau tidak, yang penting mengajar, itu saja! Dari sesi Eko Prasetyo saya juga belajar
bahwa kreativitas dalam mengajar sangatlah penting, untuk itulah kedepannya
saya akan lebih kreatif dalam mengemas cara mengajar yang menyenangkan bagi
anak-anak.
Pengalaman yang saya
lihat di daerah asal saya, Sumba, NTT, banyak sekali orang yang menjadi guru
padahal tidak sesuai dengan disiplin ilmunya, prinsip mereka yang penting dapat
kerja setelah itu dapat gaji. Awalnya saya setuju,
toh nantinya juga peserta didiknya juga tetap bisa kuliah dan bekerja, tetapi
ternyata itu malah membuat murid-murid di sana mendapat pengetahuan yang
dangkal. Apalagi ditambah dengan fasilitas yang sangat minim, akses internet
yang susah dan persediaan bahan bacaan yang sangat kurang. Sementara salah satu ukuran
keberhasilan pendidikan adalah adanya guru yang berkualitas. Apa
yang terjadi jika banyak guru ‘asal
jadi’?
Dari pelatihan
pendidikan ini saya banyak mempunyai ide, salah satunya adalah membuka perpustakaan di lingkungan
rumah saya. Sebenarnya ide ini sudah saya pikirkan sejak lama dan saya sudah
mengumpulkan buku-buku tetapi belum begitu yakin, sekarang saya sudah semakin
mantap untuk membuka perpustakaan di lingkungan rumah saya. Mohon dukungan
teman-teman. ***
6. Berpikir Lebih Luas
untuk Melihat Sebuah Masalah
Herman Ngkaia |
Saya Herman
Ngkaia, asal Sulawesi Tengah. Saat ini sedang menempuh studi di Sekolah Tinggi Teknik
Lingkungan (STTL) YLH Yogyakarta.
Selama saya menempuh pendidikan dari
Taman Kanak-Kanak, sampai saat ini, saya
merasakan betapa pentingnya pendidikan itu. Saya mengalami betapa sulitnya
mendapatkan kesempatan untuk menempuh sebuah jenjang pendidikan. Bagi
saya ilmu itu didapatkan dari proses hidup yang kita lakukan, baik
itu di dalam lingkungan sekolah, kampus maupun di dalam sebuah lembaga
atau organisasi yang kita ikuti. Jika ilmu hanya dilihat dari simbol gelar
saja, kita sudah banyak melihat dan mengalami, bahwa banyak yang
tidak menerapkan ilmu atau pengetahuan mereka secara baik-baik,
sebagaimana yang dinyatakan Prof. Dr. T. Jacob bahwa negeri ini belum
berhasil menuai nilai-nilai pendidikan yang disemai selama ini.
Menyinggung masalah
pendidikan di negeri ini masih banyak kita jumpai kesenjangan
antara desa dan kota, lebih-lebih lagi daerah-daerah pelosok. Anak-anak kota mendapatkan
fasilitas yang sangat memadai dan tenaga guru yang sangat lengkap dibandingkan
dengan anak-anak desa. Anak-anak di desa sudah minim fasilitas, minim juga guru
berkualitas. Mungkin keadaan ini bisa diibaratkan seperti kata pepatah “orang lain
sudah di bulan kita masih di bumi”, artinya anak-anak di kota sudah banyak
menyerap ilmu dibandingkan anak-anak desa atau pelosok.
Jadi bagi
kita semua yang bisa menempuh ilmu di kota Yogyakarta, patut bersyukur kepada Tuhan
diberi kesempatan untuk menikmati betapa banyaknya ilmu dan pengalaman yang bisa
kita dapatkan di kota Yogyakarta ini, khususnya di lembaga Stube Hemat. Walaupun
kita kuliah di universitas yang sangat besar dan fasilitasnya sangat elit, kita
tidak pernah mendapatkan berbagai macam ilmu dan pengetahuan serta rasa persaudaran
sebagaimana yang kita rasakan di lembaga ini. Semua pengalaman, pengetahuan dan
informasi yang didapatkan dari lembaga ini harus kita terapkan di lingkungan kita
masing-masing. Semua permasalahan pasti bisa diatasi karena Tuhan juga bekerja bersama
kita.
Saya mengucapkan
banyak terima kasih kepada seluruh Tim Stube HEMAT yang sudah banyak membantu saya
untuk membuka wawasan dan berpikir lebih luas untuk mengenal sebuah masalah yang
terjadi saat ini.
Semoga
setiap kegiatan yang akan dilaksanakan ke depan lebih menarik minat teman-teman
mahasiswa yang sedang menempuh ilmu di kota pelajar ini. ***
Komentar
Posting Komentar