Berbagi Pengetahuan dan Belajar Peduli Alam

Oleh: Kresensia Risna Efrieno


Belajar adalah kesempatan untuk mengetahui berbagai hal yang belum diketahui. Dengan belajar kita sadar pentingnya mengenal segala sesuatu yang ada dan hidup bersama kita di lingkungan yang besar dan luas. Namun, apakah kita bisa memanfaatkan kesempatan itu dan membuatnya menjadi sebuah pengalaman? Pernahkah berpikir bahwa setelah apa yang kita pelajari, penting juga untuk berbagi dengan sesama kita yang belum mengetahuinya?

Kesempatan luar biasa bagi saya saat pertama bergabung dalam Stube HEMAT Yogyakarta yang merupakan sebuah lembaga pengembangan sumber daya manusia khususnya mahasiswa yang kuliah di Yogyakarta. Bergabung bersama Stube adalah cara Tuhan membawa saya pada kesempatan belajar dan memperkaya pengalaman hidup. Bersama Stube HEMAT Yogyakarta banyak hal yang saya pelajari dan saya temukan dalam “Climate Change and Life Survival”  program.  Saya belajar tentang perubahan iklim, penyebab serta apa dampaknya bagi kehidupan manusia, lalu bagaimana mengurangi dampak resikonya. Hal yang membuat saya tertarik dengan Stube HEMAT yaitu tantangan bagi peserta untuk melanjutkan berbagi pengetahuan yang didapat setelah pelatihan. Ini membuktikan bahwa pengetahuan yang didapat tidak berakhir setelah pelatihan usai, tetapi mendorong peserta untuk terus bergerak membagikan pengetahuan yang didapatkannya. Hal ini membuat skills peserta tidak berhenti pada proses belajar, tetapi berlanjut pada proses mengajar dalam kegiatan berbagi pengetahuan dengan yang lain.

Pengalaman-pengalaman baru menjadi bekal bagi saya sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi untuk berbagi kepada orang lain. Kesempatan ini datang saat saya bertemu dan berbincang dengan Sukaningtyas, seorang guru Pendidikan Agama Kristen di SMKN 3 Wonosari, yang juga aktivis Stube HEMAT Yogyakarta ketika masih mahasiswa. Saya mendapat kesempatan untuk membagikan materi tentang pemulihan alam kepada siswa Kristen di sekolah tersebut sebagai bagian dari mata pelajaran agama Kristen (29/04/2021). Para siswa mengamati situasi lingkungan alam yang rawan di Gunungkidul, khususnya tempat di mana mereka tinggal selanjutnya menemukan penyebab mengapa menjadi rawan, antara lain, kekeringan, pencemaran bakteri e-coli di sungai di Wonosari, pohon ditebang dan angin puting beliung. Selanjutnya mereka merumuskan kegiatan yang bisa mereka lakukan sebagai wujud perhatian terhadap alam. Mereka menentukan aksi mereka berupa penanaman pohon buah yang dibeli dengan hasil iuran mereka. Penanaman pohon dilakukan di lingkungan Gereja Kristen Jawa Bejiharjo Gunungkidul (26/05/2021). Siswa tidak hanya belajar mata pelajaran agama Kristen tetapi tahu bagaimana bertindak wujud dari peduli alam.

Kerap kali kita menganggap bahwa belajar adalah hanya ingin mengenal dan mengetahui, tanpa kita sadari ada banyak orang di sekitar kita yang membutuhkan apa yang kita pelajari dan bahkan tergerak menjadi pelaku dari ilmu yang kita bagikan. Pertemuan bersama siswa-siswi ini menjadi nilai tambah bagi saya sebagai mahasiswa Komunikasi lebih terampil berbicara di depan publik. Jadi, mari berbagi pengetahuan, menyampaikan apa yang kita ketahui dan menjadi pemantik api dalam kegelapan pengetahuan. ***


Komentar