Oleh: Kresensia Risna Efrieno.
Dilihat dari segi kekayaan alamnya, Indonesia adalah negara yang kaya
sumber daya alam, bahkan terbukti sejak zaman penjajahan dimana negara-negara lain ingin menguasai Indonesia karena
kekayaan alamnya. Kita semestinya bersyukur akan hal itu. Sadarkah bangsa
Indonesia akan potensi yang luar biasa ini? Apa yang bisa kita lakukan terhadap kekayaan sumber daya
alam tersebut? Siapa yang harus berinisiatif
mengolahnya atau dibiarkan begitu saja? Pemikiran ini menjadi titik pijak Stube-HEMAT sebagai lembaga
yang ‘concern’ terhadap anak muda supaya terbuka
kesadarannya akan kekayaan bangsa ini dan mengupayakannya untuk kesejahteraan.
Inisiatif untuk melihat kembali potensi pangan lokal
menjadi topik diskusi mahasiswa Stube HEMAT Yogyakarta (Kamis, 2/6/2022) sebagai bagian
dari program Keanekaragaman
Hayati: Inisiatif Pangan Lokal. Para mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia
mengidentifikasi potensi-potensi lokal di daerah asal mereka dan memetakan produk yang sudah
dihasilkan. Selanjutnya mereka mendiskusikan produk turunan seperti apa yang
bisa dihasilkan darinya. FX Mujiyono, seorang praktisi hadir sebagai narasumber yang membagikan
pengalaman mengolah potensi lokal agar memiliki nilai tambah. Hadir juga board Stube HEMAT, Pdt. Em. Bambang Sumbodo, M.Min dan Direktur Eksekutif Stube
HEMAT Ariani Narwastujati, S.Pd., S.S., M.Pd.
Di awal diskusi para mahasiswa memetakan potensi lokal yang unik
dari daerah mereka masing-masing. Ini menjadi langkah awal untuk membawa mahasiswa menyadari
kekayaan potensi
lokal yang ada di daerahnya. Selanjutnya FX Mujiyono mengungkapkan bahwa Indonesia adalah
negara tropis yang kaya hayati dan tambang. Tidak ada hasil alam yang tidak
bisa kita olah, termasuk di daerah-daerah. Ia membagikan pengalamannya selama
berkiprah mengolah potensi
lokal,
khususnya di provinsi NTT, seperti pupuk organik dan pengembangan
pertanian,
kemudian produk fermentasi dari tanaman buah dan rempah, seperti anggur, salak, kopi, kayu manis dan
pisang. Ia memilih bahan-bahan ini karena prinsip 3 M, yaitu Mudah, Murah dan Melimpah,
seperti salak. Fermentasi salak sebagai langkah alternatif yang bisa dilakukan saat
panen raya sehingga tetap menguntungkan petani. Temuan-temuan baru pengolahan
pangan lokal akan muncul dari kesadaran akan kekayaan pangan lokal dan mencari tahu apa yang
bisa dihasilkan sebagai produk turunannya. Produk-produk ini pun punya peluang
masuk ke pasar global, dari semangat lokal menuju global.
Para peserta antusias menyimak paparan narasumber dan merespon dengan tanggapan dan pertanyaan, seperti Mensi, mahasiswa dari Sumba, NTT membagikan pengalamannya. “Di tempat saya jambu mete cukup banyak, tapi kami hanya menjual kacangnya karena kami tidak tahu cara mengolah buahnya untuk bisa menghasilkan sesuatu yang baru. Kami sering membakar kacang mete untuk menghasilkan minyak.” Selvi Lum, peserta lainnya dari Kepulauan Aru menceritakan buah raja dan buah tongki dari mangrove yang mudah ditemui di kawasan pesisir. Ia juga belum tahu bagaimana mengolahnya supaya memiliki nilai tambah.
Wawasan baru ini akan menggerakkan para mahasiswa memanfaatkan potensi pangan lokal yang dimiliki dan menemukan nilai tambah sebagai poin penting untuk eksis dan mandiri. Indonesia memiliki kekayaan alam yang bisa diolah agar memiliki nilai tambah, tetapi apakah setiap kita mau menyadari dan mempelajarinya? ***
Komentar
Posting Komentar