DEEP TALK: MENGEMAS SHORT FILM. Sharing pengalaman berkarya bersama channel Kawara Panamung

Oleh: Stube HEMAT Yogyakarta.          

Deep Talk mengupas bagaimana mengemas film pendek ala komunitas Kawara Panamung ini menjadi sebuah percakapan online yang menarik (Selasa, 13/01/2026).  Mengapa mereka memilih film? Karena film bisa berperan sebagai media perubahan dengan membangkitkan empati, membuka kesadaran, dan menghadirkan realitas yang sering diabaikan, supaya mendorong dialog serta perubahan sosial yang lebih adil dan manusiawi. Film pendek dipilih karena ceritanya singkat, langsung ke inti masalah, emosi lebih kuat dan jujur, mudah diproduksi di desa, mudah dibagikan, dan diharapkan memiliki dampak luas lewat jagat maya.  

Dengan memiliki visi-misi yang padat, Kawara Panamung berusaha menciptakan ruang bercerita bagi pemuda desa setempat, yakni di Tanatuku-Sumba Timur. Ruang bercerita yang dituangkan dalam bentuk film pendek ini mengangkat isu perempuan, pendidikan dan budaya. Hal ini dilakukan sebagai sebuah upaya memperjuangkan suara yang sering dianggap biasa, namun realitanya menyakitkan. Hal ini dibenarkan oleh Bernad, salah satu peserta percakapan, pemerhati permasalahan sosial dan pendidikan, tinggal di Sumba. “Yang diangkat dalam produksi film Kawara Panamung memang isu-isu faktual di Sumba, yang dirasakan memang menyakitkan. Sehingga film-film di channel Kawara Panamung cukup menyuarakan apa yang terjadi dalam kenyataan”, tambahnya. Komunitas ini memiliki idealisme tinggi yakni memproduksi film sebagai suara, bukan sekadar tontonan. Apakah para penonton menyukainya atau tidak, menjadi urusan selanjutnya. Cerita-cerita yang diangkat adalah cerita nyata, dan cerita nyata lebih penting daripada sebuah cerita yang indah.

Channel Kawara Panamung memiliki banyak sumber ide cerita untuk disajikan dalam sebuah film pendek. Sumba beserta kehidupan budayanya adalah gudang cerita tentang kehidupan desa, tentang konflik adat dan ekonomi, tentang perjuangan perempuan yang dibungkam dan terpaksa diam sehingga jarang didengar. Kegelisahan-kegelisahan atas hal-hal inilah menjadi pendorong pembuatan film-film pendek. Kawara Panamung memulai produksi film dengan modal apa yang ada pada mereka. Para pemeran diambil dari kalangan sendiri, mulai dari siswa-siswi sekolah, aktivis Kawara Panamung, perangkat desa, dan keluarga. Mereka dengan sukarela bersedia menjadi pemeran cerita film-film tersebut, bahkan dituturkan oleh beberapa pemain bahwa mereka bangga ikut ambil bagian dalam film tersebut.

“Jujur kami akui bahwa sepulang adi Eliz dari kuliah di Jogja, sering membuat berbagai kegiatan yang membuat kami di desa belajar banyak hal. Pelatihan-pelatihan dengan Stube HEMAT dan komunitas Kawara Panamung sedikit banyak mengubah pola pikir para perempuan di desa. Hal yang tidak pernah kami pikirkan, menjadi hal baru dan membuat perempuan di Tanatuku menjadi lebih pandai. Apalagi saat ini dengan memproduksi film pendek, banyak orang yang ingin terlibat”, tutur Alfin Lestari Konda.

Selanjutnya Eliz, penggerak Kawara Panamung sekaligus sutradara memberi penjelasan atas tahapan yang dilakukan dalam membuat film yakni:

  1. Temukan gagasan yang dekat dengan pengalaman atau isu sosial di sekitar, lalu dituangkan dalam bentuk skenario singkat yang jelas dan padat.
  2. Tahap berikutnya adalah produksi, yakni merekam adegan dengan kamera HP sederhana, memanfaatkan lokasi yang tersedia, serta melibatkan teman atau komunitas sebagai aktor dan kru.
  3. Hasil rekaman dirangkai melalui proses editing dengan menggunakan aplikasi yang sesuai. Tambahkan musik atau suara pendukung agar pesan lebih kuat.

Film pendek memiliki keunggulan yang tidak dimiliki bentuk komunikasi lain. Sebuah adegan sederhana—seorang anak menatap hamparan bukit tandus, siswa berangkat sekolah tanpa alas kaki, seorang ibu menimba air dari sumur kering—bisa lebih kuat daripada seribu kata. 

Kawara Panamung menekankan bahwa perubahan besar lahir dari langkah kecil, dari keberanian sederhana untuk bersuara. Film pendek menjadi jembatan antara isu sosial dan kesadaran masyarakat. Film pendek tidak hanya mengajak kita menonton, tetapi juga menuntut pemirsa untuk bertindak. ***





Komentar