Diskusi bersama IPAMAMO (Ikatan Pelajar & Mahasiswa Moi)
Oleh: Stube HEMAT Yogyakarta.
IPAMAMO adalah organisasi pelajar dan mahasiswa asal suku Moi, yang dibentuk sebagai wadah solidaritas bagi mereka di perantauan, advokasi dan penguatan identitas budaya bagi para pelajar dan mahasiswa suku Moi di berbagai tempat studi mereka, yang tersebar di Indonesia. Sebagai suatu organisasi IPAMAMO perlu memperkuat struktur kepemimpinan, transparansi dan sistem komunikasi.
Mengenal sekilas tentang suku Moi. Suku Moi adalah salah satu suku besar di Papua Barat Daya. Suku ini tersebar di kota Sorong, kabupaten Sorong, Sorong Selatan, kabupaten Raja Ampat, dan kabupaten Tambrauw. Suku Moi memiliki sembilan sub suku yakni Moi Kelin, Klabra, Karon, Lamas, Legin, Maya, Moraid, Salkma, dan Segin. Suku Moi dikenal sebagai penjaga tradisi Egek. Egek adalah aturan adat untuk menjaga keseimbangan alam dengan hanya mengambil secukupnya dari hutan dan laut. Suku ini juga mengirim anak-anak muda mereka menimba ilmu di luar daerah, untuk nantinya bisa kembali membangun daerahnya.
Diskusi kali ini bekerjasama dengan Lembaga Stube HEMAT (Sabtu, 7/03/2026) dengan tujuan memperkuat rasa kebersamaan, membangun kepemimpinan berbasis kearifan lokal, dan belajar bahwa kepemimpinan bisa lahir dari solidaritas mahasiswa yang berangkat dari akar budaya. Dengan narasumber Patrick V. Sarom, S.I.Kom dan diikuti beberapa aktivis IPAMAMO, diskusi dibuka dengan pertanyaan apa pentingnya manajemen yang kuat dalam organisasi. Beragam pendapat muncul. Diantaranya adalah manajemen organisasi berfungsi sebagai sistem yang mengatur arah, strategi, dan operasional sebuah lembaga. Tanpa manajemen yang baik, kepemimpinan akan kehilangan arah dan sulit membangun kepercayaan karena kepemimpinan tidak bisa dilepaskan dari manajemen yang kokoh.
Unsur-unsur dalam manajemen organisasi yang baik meliputi: 1) struktur organisasi yang jelas untuk memahami peran dan tanggung jawab masing-masing, sehingga meminimalisir konflik dan meningkatkan efisiensi; 2) budaya organisasi yang sehat, menekankan integritas, kolaborasi, dan inovasi; 3) tata cara mengambil keputusan yang berbasis data dan melibatkan partisipasi anggota untuk memperkuat legitimasi kepemimpinan. Hal-hal ini dapat terwujud dengan perencanaan yang baik, aktualisasi dalam pelaksanaan, pengorganisasi serta pengawasan yang baik.
Di tengah
proses diskusi, narasumber menyuguhkan film pendek dengan judul BATU. Film ini
memantik pemikiran bahwa dalam perjalanan organisasi ada tantangan dan
rintangan. Untuk itu, setiap orang diajak melakukan usaha-usaha menyingkirkan
hambatan-hambatan dalam organisasi. Manajemen organisasi bukan sekadar
memperbaiki sistem internal, tetapi juga menciptakan ekosistem yang melahirkan
kepemimpinan berkualitas. Pemimpin yang lahir dari organisasi dengan manajemen
yang kuat akan mampu menghadapi perubahan, menginspirasi tim, dan membawa
organisasi menuju keberhasilan jangka panjang. Selamat berproses anak-anak muda
IPAMAMO. ***


.png)


Komentar
Posting Komentar