Kolaborasi pro lingkungan yang selaras dengan Paskah Ekologis, antara Stube HEMAT dan para remaja Pepanthan Randukuning dan Bendungan GKJ Wonosari, Gunungkidul dalam Bible Study dan Melek Lingkungan, (Sabtu,14/03/2026).
Oleh: Trustha Rembaka.
Menyebutkan
nama desa di Gunungkidul yang memiliki unsur tanaman. Sederhana bukan? Ini
adalah games Sebut Nama dari
narasumber sebagai pembuka pertemuan pemahahaman Alkitab kolaborasi ini. Ternyata,
tak mudah bagi para remaja ini untuk menyebutkannya, karena mereka jarang
memikirkan hal tersebut. Namun, setelah berpikir
sejenak, mereka bisa menyebutkan, antara lain Randukuning (Randu), Jatiayu
(Jati), Gedangsari (Pisang), Ngasem (asem), Karangmojo, Kelor, dan lainnya. Di Kabupaten
Gunungkidul ada 548 dusun dari 1.431 dusun yang namanya berkaitan dengan tanaman
(Harian Jogja, 1 Nov 2022). Kenyataan
ini mengingatkan masyarakat bahwa kehidupan mereka sebenarnya ‘dekat’ dengan
alam, bahkan tidak bisa lepas darinya. Manusia tidak bisa hidup dengan baik
jika lingkungan dan alam rusak.
Dalam bible study para peserta mendalami Kejadian 1:28 “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi". Dalam versi The Message Bible, ayat ini berbunyi “God blessed them: "Prosper! Reproduce! Fill Earth! Take charge! Be responsible for fish in the sea and birds in the air, for every living thing that moves on the face of Earth." Ayat ini adalah berkat pertama sekaligus mandat pertama dari Allah kepada manusia. Ada dua point yang didalami, yaitu ‘Take Charge’ atau mengambil kendali dan mengatur, kemudian ‘Responsible’ atau bertanggung jawab. Jadi, manusia mendapat mandat sebagai pemegang kendali di bumi dan mengaturnya secara bertanggung jawab. Jika terjadi kerusakan, pencemaran atau bahkan kepunahan terhadap salah satu makhluk hidup berarti manusia tidak bertanggungjawab pada mandat itu.
Bagaimana prakteknya sehari-hari? Narasumber mengambil satu contoh dari Kigali, ibukota Rwanda di Afrika, dengan program Rwanda Clean Up Day. Pemerintah berkomitmen mewujudkan Rwanda sebagai tempat yang layak untuk hidup, dengan program kerja bakti nasional (Umuganda) sebulan sekali pada Sabtu terakhir. Mereka mengeluarkan regulasi larangan penggunaan plastik sekali pakai, denda bagi penyampah, pengelolaan sampah modern, daur ulang, pengomposan dan aplikasi pengangkutan sampah, perencanaan kota yang baik, taman kota, ruang hijau dan penggunaan sepeda, edukasi dan budaya kebersihan melalui slogan ‘Isuku Hose Ihera Kuri Njye’ (bersih dimana mana dimulai dari saya). Kebersihan dipakai sebagai kebanggaan nasional, bahkan gereja di Rwanda pun tidak ketinggalan dengan menggerakkan jemaat ikut Umuganda. Kotbah-kotbah gereja memberi pemahaman iman yang merawat ciptaan, menyediakan fasilitas kebersihan dan logistik, dan menggerakan untuk menanam pohon.
Di akhir acara, para peserta mencermati rilis dari Earth.com tentang Biggest Environmental Problem 2025, yang berkaitan dengan kehidupan remaja, antara lain, limbah makanan dari makanan yang tidak habis dikonsumsi, hilangnya keanekaragaman hayati, penggunaan plastik yang tak terkontrol, menurunnya ketahanan pangan dan air, serta sampah pakaian bekas dan tekstil. Sebagai satu langkah aksi, para anak muda berkomitmen lebih peduli terhadap lingkungan di sekitar mereka.
Beberapa
ungkapan muncul dari peserta, Disa mengungkapkan, “Saya mendapat ilmu baru
tentang pentingnya menjaga bumi. Saya menjadi lebih sadar terhadap limbah sisa
makanan, penggunaan plastik, serta penghematan bahan bakar dan polusi udara. Ke
depannya saya berusaha menggunakan barang yang reusable, mengambil makanan secukupnya, dan lebih sering berjalan
kaki demi menjaga kesehatan, hemat bahan bakar dan mengurangi polusi udara.” Sementara
Danik mengatakan, “Saya mendapat pengetahuan baru bagaimana Rwanda, negara di
Afrika menjaga alam. Saya tersadar bahwa saya masih kurang menjaga lingkungan.
Oleh karena itu, saya berkomitmen untuk mulai memelihara alam di sekitar saya.”
Masa remaja adalah fase pembentukan karakter kedewasan iman dan meningkatkan tanggung jawab terhadap kehidupan di masa depan. Pemahaman Alkitab model ini menjadi salah satu terobosan untuk menumbuhkan kesadaran berperilaku ramah lingkungan agar lingkungan tetap terjaga baik secara berkelanjutan. Dengan demikian, tentu saja, remaja bisa peduli terhadap lingkungannya.***




.jpg)

Komentar
Posting Komentar