Memperingati hari Kartini dan Hari Bumi
Oleh: Stube HEMAT Yogyakarta.
Hari Kartini (21 April) dan Hari Bumi (22 April) adalah momentum yang saling melengkapi: emansipasi perempuan dan kepedulian ekologis. Semangat Kartini kini meluas, bukan hanya memperjuangkan hak perempuan, tetapi juga menjaga keberlanjutan bumi. Kartini-Kartini ekologis adalah simbol bahwa perjuangan perempuan tidak berhenti pada emansipasi sosial, tetapi juga merambah ke pelestarian bumi. Dengan keberanian dan kepedulian, perempuan Indonesia membuktikan diri sebagai garda terdepan menjaga manusia dan alam.
Bukti itu terlihat dari kiprah Mama Yosepha Alomang dari Papua. Ia adalah pejuang lingkungan dan hak masyarakat adat Papua dengan menentang eksploitasi tambang yang merusak hutan dan tanah leluhur. Sejak kecil ia mengalami perpindahan paksa oleh pemerintah kolonial Belanda dan kemudian Indonesia. Mama Yosepha menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam menjaga hutan dan tanah adat Amungme dari tambang emas dan tembaga Freeport. Tahun 2001, ia menerima Goldman Environmental Prize, salah satu penghargaan lingkungan hidup paling bergengsi di dunia, atas keberaniannya melawan perusahaan tambang besar dan membela masyarakat adat. Kisahnya menginspirasi banyak aktivis muda di Papua dan Indonesia untuk melawan proyek perusak alam. Ia teguh dan aktif dalam perjuangannya, menuntut tanggung jawab Freeport atas janji-janji yang tidak ditepati, meski keterbatasan fisik karena mengalami kebutaan.
Farwiza
Farhan, melalui Yayasan HAkA berjuang melindungi ekosistem Leuser-Aceh, salah
satu hutan tropis paling penting di dunia. Ekosistem Leuser adalah habitat
orangutan, harimau, gajah, dan badak Sumatra. Ia bekerja sama dengan
Leonardo DiCaprio dalam film dokumenter Before the Flood untuk meningkatkan
kesadaran dunia tentang pentingnya Leuser. Penghargaan dan pengakuan yang
diperolehnya seperti Whitley Award (2016), TIME 100 Next (2022), Ramon
Magsaysay Award (2024), dan Rolex Perpetual Planet Laureate (2026). Ia bekerja menggerakkan
masyarakat dan memperjuangkan keberlanjutan ekosistem, menjadi teladan
kepemimpinan perempuan di ranah lingkungan.
Earth
Day 2026 dengan tema Our Power, Our Planet mengingatkan bahwa kekuatan
masyarakat adalah kunci untuk menyelamatkan bumi. Dengan aksi kolektif,
transisi energi bersih, dan perlindungan biodiversitas, peringatan ini menjadi
momentum penting untuk memperkuat gerakan lingkungan global. Di banyak daerah,
dimulai dari langkah sederhana, ibu-ibu rumah tangga menginisiasi Bank Sampah.
Mereka mengorganisir masyarakat untuk memilah, mendaur ulang, dan mengurangi
limbah. Gerakan ini bukan hanya menjaga lingkungan, tetapi juga memberdayakan
ekonomi keluarga. Dari Papua hingga Aceh, dari desa hingga kota, perempuan
hadir di garis depan pelestarian alam. Mereka memperjuangkan keadilan sosial,
ekonomi, budaya, sekaligus menjaga bumi. Semangat Kartini berpadu dengan
semangat Hari Bumi. Perempuan pasti bisa***
* foto-foto diunduh dari internet



Komentar
Posting Komentar