By: Ariani Narwastujati
Peluncuran novel ‘Segalanya Bermula dari Keluarga di Samping Kali Klamono’ karya Patrick Valdano Sarwom, berlangsung penuh makna. Acara ini tidak hanya menjadi perayaan lahirnya sebuah karya sastra baru, tetapi juga momentum refleksi tentang pentingnya keluarga sebagai fondasi kehidupan, dengan background besar masyarakat Papua beserta dinamika sosial, ekonomi, dan politiknya, terutama ancaman kekerasan militer.
Acara launching berlangsung di ruang M. Soetopo, STPMD “APMD” Yogyakarta
(Rabu, 1/04/2026) dihadiri oleh ketua STPMD “APMD” Dr. Sutoro Eko Yunanto, M.Si,
kaprodi Ilmu Komunikasi Dr. Yuli Setyowati, M.Si, pastor mahasiswa Katolik Rm.
Agustinus Daryanto, S.J, dan direktur lembaga Stube HEMAT Yogyakarta. Diawali opening
speech dari Dr. Sutoro, dan dilanjutkan sambutan-sambutan, acara launching
tersebut sebenarnya menegaskan bahwa pendekatan sastra bisa dipakai untuk mengungkapkan
realita ketidakdilan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat dan merupakan
senjata dalam sebuah perjuangan damai.
Penulis mengusung tulisan Prof. Franz Magnis-Suseno yang menghiasi cover novelnya tentang nilai-nilai yang harus diperhatikan dalam keluarga yang merupakan pondasi terkecil yang membentuk masyarakat. Novel ini mengungkapkan kehidupan sebuah keluarga yang tinggal di pinggiran sungai Klamono, Papua Barat Daya dengan trauma dan luka masa lalu yang tertinggal di jiwa dan tak terucapkan. Tokoh utama novel ini adalah Nelson, seorang anak yang memiliki cita-cita, namun terhalang oleh ibunya yang memiliki trauma masa lalu yang tidak terkomunikasikan. Bagian demi bagian novel ini bertutur bagaimana konflik dimulai, memuncak dan diakhri penyesalan yang abadi. Sebuah novel yang menarik untuk dibaca dan cermin kehidupan bagi pembaca untuk menjadi lebih bijaksana.
Peserta yang hadir sebagian besar adalah mahasiswa dari berbagai kampus. Mereka merespon sesi diskusi dengan berbagai pertanyaan kepada dua narasumber, yakni penulis novel dan Tri Agus Susanto, S.Pd., M.Si, wakil ketua tiga bidang kemahasiswaan STPMD “APMD”. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan mencakup berbagai isu seperti latar belakang cerita, trauma-trauma yang ada di Papua dan penyembuhan luka batin, militerisme dan otonomi khusus, dana kesejahteraan masyarakat dan korupsi. Diskusi interaktif yang terjadi menunjukkan antusiasme peserta-pembaca yang menilai novel ini relevan dengan realitas sosial, terlebih di Papua yang masih perlu banyak perhatian.
Segalanya Bermula dari Keluarga di Samping Kali Klamono, layak diapresiasi sebagai kontribusi penting bagi literasi lokal sekaligus inspirasi bagi pembaca yang ingin memahami akar kehidupan pada masyarakat, khususnya di Papua dari perspektif keluarga. Selamat untuk terus berkarya, sahabat Stube HEMAT, Patrick Valdano Sarwom. ***






Komentar
Posting Komentar