Ruang Diskusi, Ruang Gerakan Intelektual Kritis

(Nobar film Pesta Babi bersama Kokomas GKJ Mergangsan)

Oleh: Stube HEMAT Yogyakarta.          

Nonton bareng (nobar) film dokumenter investigasi (Sabtu, 16 Mei 2026) berjudul Pesta Babi karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale, bukan sekadar kegiatan menonton bersama. Kegiatan ini merupakan pengalaman kolektif yang membuka ruang refleksi, dan solidaritas, serta ekspresi kritis terhadap kebijakan pembangunan yang bersinggungan dengan masyarakat adat. Isu-isu mengenai Papua, jarang diangkat media arus utama. Nobar ini sekaligus menjadi ruang edukasi yang digagas Kokomas GKJ Mergangsan untuk membuka wawasan tentang Papua dan permasalahannya, seperti konflik agraria, militerisasi, dan perjuangan masyarakat adat Papua, khususnya di wilayah Papua Selatan mencakup masyarakat adat Marind, Awyu, Yei, dan Muyu. Adapun judul film diambil dari tradisi pesta babi masyarakat Muyu, sebagai simbol kontras antara budaya lokal dan praktik perampasan tanah.

Bagian awal film menyuguhkan scene kedatangan kapal-kapal besar yang membawa ratusan alat berat ke Papua Selatan sebagai tanda masuknya proyek strategis nasional (PSN) di bidang pangan dan energi, tertuang dalam Keputusan Presiden No. 19 Tahun 2025 dan Instruksi Presiden No. 14 Tahun 2025. Pembukaan hutan yang direncanakan mencapai 451.000 hektar di wilayah Papua Selatan ini, jelas menimbulkan keresahan bagi masyarakat adat yang bergantung pada hutan sebagai ruang hidup, tanah leluhur, dan identitas budaya mereka.

Protes langsung dilakukan dengan mendatangi lokasi proyek, menyampaikan penolakan, dan menegaskan bahwa tanah tersebut adalah warisan leluhur yang tidak boleh diganggu, karena Papua bukan tanah kosong! Salah satu bentuk investigasi berbasis data yang mendukung film ini adalah wawancara dengan masyarakat setempat. Warga menceritakan dampak langsung proyek terhadap kehidupan sehari-hari, seperti hilangnya sumber makanan alami dan ancaman terhadap tradisi. Saat ini, masyarakat adat di Papua Selatan telah memasang sekitar 1.800 salib merah dan palang adat sebagai simbol perlindungan terhadap hutan dan tanah leluhur mereka. Gerakan ini terus meluas, terutama di Kabupaten Boven Digoel, Mappi, dan Merauke. Di sisi lain, kehadiran aparat bersenjata untuk mengamankan proyek membuat warga semakin tertekan, sehingga perlawanan mereka juga berisiko berhadapan dengan kekerasan dan dikhawatirkan berujung praktek kolonialisme jaman ini.

Bertempat di aula belakang gereja, nobar ini menghadirkan komunitas mahasiswa Stube HEMAT, aktivis, dan masyarakat sipil dalam satu ruang, membuat isu yang jauh terasa dekat. Melihat masyarakat adat Marind, Awyu, Yei, dan Muyu di layar, serasa jarak geografis itu lenyap. Mereka bukan lagi “orang jauh di timur”, melainkan sesama manusia yang ruang hidupnya dirampas dengan legitimasi alasan-alasan. Peserta yang hadir mengekpresikan pemikiran mereka atas apa yang terjadi dan mengecam praktek-praktek perampasan dan apapun yang bertentangan dengan Hak Asasi Manusia. Diharapkan layar nobar ini melahirkan kesadaran kolektif, bahwa pembangunan sejati adalah yang menghormati manusia dan alam, bukan yang mengorbankannya.***

Komentar