Oleh Trustha Rembaka, S.Th.
Zaman yang semakin maju menuntut masyarakat untuk meningkatan kemampuan agar mampu menyesuaikan diri, berkompetisi dan berkontribusi. Pencapaian kemajuan teknologi mengubah cara hidup manusia dan lingkungannya, menuntut peningkatan kualitas dan kompetensi sumber daya manusia (SDM). Kompetisi antarmanusia semakin ketat, meluas, dan menembus lintas batas negara. Pemberdayaan masyarakat krusial dibutuhkan untuk menjawab kemajuan dan permasalahan yang semakin kompleks.
Di kabupaten Gunungkidul, tempat tinggal penulis, kemajuan nampak dari berkembangnya wilayah perkotaan dan perdesaan seperti bertambahnya fasilitas pendidikan, akses jalan raya semakin baik, terkoneksi dengan jalur antarpropinsi, serta beragam pilihan kawasan wisata. Namun demikian, tantangan sosial juga muncul, seperti perubahan perilaku, interaksi sosial karena modernisasi dan perkembangan teknologi, perubahan struktur demografi, migrasi penduduk usia produktif, keterbatasan fasilitas pengolahan sampah, keterbatasan transportasi umum antarkecamatan yang layak, konversi kawasan pertanian menjadi hunian dan industri, termasuk ancaman terhadap kawasan konservasi karst.
Pendekatan
taktis diperlukan untuk menjawab tantangan pembangunan, jangan hanya berorientasi
pada infrastruktur tapi juga peningkatan kapasitas masyarakat. Pemberdayaan
masyarakat berbasis sosial menjadi salah satu hal yang bisa dilakukan, karena
akan memotivasi masyarakat berperan, bertindak dan berinovasi atas
potensi-potensi lokal yang ada. Salah satu yang dilakukan penulis adalah mendampingi
kelompok musik angklung dan band remaja, sebagai langkah kecil pemberdayaan
masyarakat berbasis sosial atau social-based
community empowerment. Bermusik dengan
basis komunitas mempunyai kekuatan untuk menyatukan orang, mengasah
keterampilan, menumbuhkan rasa percaya diri dan solidaritas sosial,
mengembangkan kreativitas dan melestarikan warisan budaya. Jadi, bermusik tidak
hanya bernilai seni namun sebuah pemberdayaan masyarakat yang inklusi dan
berkelanjutan, selaras dengan pendapat
Lee Higgins, seorang tokoh terkemuka di bidang community music dalam bukunya Community
Music: In Theory dan In Practice (2012). Menurutnya, Community music merupakan praktik partisipatif yang menggunakan
musik sebagai media untuk membangun hubungan antarmanusia, meningkatkan
kapasitas individu dan komunitas, memperkuat identitas budaya, mendorong
partisipasi masyarakat dan kohesi sosial sehingga tercipta masyarakat yang
berdaya secara sosial.
Hal
ini terbukti dari kemajuan yang dialami komunitas musik angklung ‘Ekklesia Nada’
Randukuning, Wonosari, Gunungkidul. Rini D. Lestari, salah satu anggotanya,
mengungkapkan, “Saya mengalami kemajuan
pengetahuan tentang notasi, irama lagu dan utamanya rasa percaya diri ketika
menampilkan lagu menggunakan angklung. Antusiasme anggota kelompok menarik minat
individu lainnya untuk bergabung tanpa memandang usia dan gender bahkan saling
membantu dalam berlatih.” Pendapat lain muncul dari Nur Jaenab, anggota dari
Tjah Ngeband, sebuah band remaja, “Satu tahun terakhir saya berlatih memainkan
alat musik gitar. Saya merasakan bahwa melalui musik dan berlatih instrumen,
sangat membantu saya menjadi percaya diri, mengasah konsentrasi ketika
melakukan sesuatu, khususnya saat belajar di sekolah. Saat ini saya pun
tergerak menjadi mentor bagi remaja lainnya untuk bermusik”.
Satu kemajuan
akan diikuti kemajuan-kemajuan lainnya, seperti semangat untuk berkumpul, bertambahnya
pengetahuan bermusik, tumbuhnya rasa percaya diri dan solidaritas sosial,
melestarikan alat musik warisan budaya dan berani memiliki mimpi-mimpi
berikutnya. Akhirnya, melalui komunitas angklung, band remaja maupun aktivitas
bermusik lainnya bisa menjadi model pemberdayaan komunitas demi perubahan lebih
baik, inklusi dan berkelanjutan. Bisa bermusik? Ayo, gunakan untuk pemberdayaan
masyarakat. ***
di musik saya mengungkapkan ekspresi diri
BalasHapus